Showing posts with label Tentang Aceh. Show all posts
Showing posts with label Tentang Aceh. Show all posts

Monday, March 18, 2013

Sejarah Lahirnya GAM (Gerakan Aceh Merdeka)


Pasca Kemerdekaan Republik Indonesia
Berbicara tentang GAM, mau tak mau, harus bicara kelahiran negara Republik Indonesia. Sebab, dari situlah kisah gerakan menuntut kemerdekaan dimulai. Lima hari setelah RI diproklamasikan, Aceh menyatakan dukungan sepenuhnya terhadap kekuasaan pemerintahan yang berpusat di Jakarta. Di bawah Residen Aceh, yang juga tokoh terkemuka, Tengku Nyak Arief, Aceh menyatakan janji kesetiaan, mendukung kemerdekaan RI dan Aceh sebagai bagian tak terpisahkan.

Pada 23 Agustus 1945, sedikitnya 56 tokoh Aceh berkumpul dan mengucapkan sumpah. ''Demi Allah, saya akan setia untuk membela kemerdekaan Republik Indonesia sampai titik darah saya yang terakhir.'' Kecuali Mohammad Daud Beureueh, seluruh tokoh dan ulama Aceh mengucapkan janji itu. Pukul 10.00 WIB pada waktu itu, Husein Naim dan M Amin Bugeh mengibarkan bendera di gedung Shu Chokan (kini, kantor gubernur). Akan tetapi, ternyata tak semua tokoh Aceh mengucapkan janji setia, yaitu mereka para hulubalang, prajurit-prajurit yang berjuang melawan Belanda dan Jepang. Mereka yakin, tanpa RI, mereka bisa mengelola sendiri negara Aceh. Inilah kisah awal sebuah gerakan kemerdekaan. Motornya adalah Daud Cumbok, markasnya di daerah Bireuen. Tokoh-tokoh ulama menentang Daud Cumbok. Melalui tokoh dan pejuang Aceh, M. Nur El Ibrahimy, Daud Cumbok digempur dan kalah. Dalam sejarah, perang ini dinamakan perang saudara atau Perang Cumbok yang menewaskan tak kurang 1.500 orang selama setahun hingga 1946.

Tahun 1948, ketika pemerintahan RI berpindah ke Yogyakarta dan Syafrudin Prawiranegara ditunjuk sebagai Presiden Pemerintahan Darurat RI (PDRI), Aceh minta menjadi propinsi sendiri. Saat itulah, M. Daud Beureueh ditunjuk sebagai Gubernur Militer Aceh. Oleh karena kondisi negara terus labil dan Belanda merajalela kembali, muncul gagasan melepaskan diri dari RI, ide datang dari dr. Mansur, wilayahnya tak cuma Aceh, tetapi meliputi Aceh, Nias, Tapanuli, Sumatera Selatan, Lampung, Bengkalis, Indragiri, Riau, Bengkulu, Jambi, dan Minangkabau. Daud Beureueh menentang ide ini, diapun berkampanye kepada seluruh rakyat, bahwa Aceh adalah bagian RI. Sebagai tanda bukti, Beureueh memobilisasi dana rakyat.

Setahun kemudian, 1949, Beureueh berhasil mengumpulkan dana rakyat 500.000 dolar AS. Uang itu disumbangkan utuh buat bangsa Indonesia. Uang itu diberikan ABRI 250 ribu dolar, 50 ribu dolar untuk perkantoran pemerintahan negara RI, 100 ribu dolar untuk pengembalian pemerintahan RI dari Yogyakarta ke Jakarta, dan 100 ribu dolar diberikan kepada pemerintah pusat melalui AA Maramis. Aceh juga menyumbang emas lantakan untuk membeli obligasi pemerintah, membiayai berdirinya perwakilan RI di India, Singapura dan pembelian dua pesawat terbang untuk keperluan para pemimpin RI. Saat itu Soekarno menyebut Aceh adalah modal utama kemerdekaan RI.

Setahun berlangsung, kekecewaan tumbuh. Propinsi Aceh dilebur ke Propinsi Sumatera Utara. Rakyat Aceh marah. Apalagi, janji Soekarno pada 16 Juni 1948 bahwa Aceh akan diberi hak mengurus rumah tangganya sendiri sesuai syariat Islam tak juga dipenuhi. Intinya, Daud Beureueh ingin pengakuan hak menjalankan agama di Aceh. Bukan dilarang. Beureueh tak minta merdeka, cuma minta kebebasan menjalankan agamanya sesuai syariat Islam. Daud Beureueh pun menggulirkan ide pembentukan Negara Islam Indonesia pada April 1953. Ide ini di Jawa Barat telah diusung Kartosuwiryo pada 1949 melalui Darul Islam. Lima bulan kemudian, Beureueh menyatakan bergabung dan mengakui NII Kartosuwiryo. Dari sinilah lantas Beureueh melakukan gerilya. Rakyat Aceh, yang notabene Islam, mendukung sepenuhnya ide NII itu. Tentara NII pun dibentuk, bernama Tentara Islam Indonesia (TII). Lantas, terkenallah pemberontakan DI/TII di sejumlah daerah. Beureueh lari ke hutan. Cuma, ada tragedi di sini. Pada 1955 telah terjadi pembunuhan masal oleh TNI. Sekitar 64 warga Aceh tak berdosa dibariskan di lapangan lalu ditembaki. Aksi ini mengecewakan tokoh Aceh yang pro-Soekarno. Melalui berbagai gejolak dan perundingan, pada 1959, Aceh memperoleh status propinsi daerah istimewa.

Beureueh merasa dikhianati Soekarno. Bung Karno tidak mengindahkan struktur kepemimpinan adat dan tak menghargai peranan ulama dalam kehidupan bernegara. Padahal, rakyat Aceh itu sangat besar kepercayaannya kepada ulama. Gerilya dilakukan, tetapi Bung Karno mengerahkan tentaranya ke Aceh. Tahun 1962, Beureueh dibujuk menantunya El Ibrahimy agar menuruti Menhankam AH Nasution untuk menyerah. Beureueh menurut karena ada janji akan dibuatkan UU Syariat Islam bagi rakyat Aceh (baru terwujud tahun 2001).



Awal Mula Berdirinya GAM
GAM lahir di era Soeharto. Saat itu, sedang terjadi industrialisasi di Aceh. Soeharto benar-benar mencampakkan adat dan segala penghormatan rakyat Aceh. Efek judi melahirkan prostitusi, mabuk-mabukan, bar, dan segala macam yang bertentangan dengan Islam dan adat rakyat Aceh. Kekayaan alam Aceh dikuras melalui pembangunan industri yang dikuasai orang asing melalui restu pusat. Sementara rakyat Aceh tetap miskin. Pendidikan rendah, kondisi ekonomi sangat memprihatinkan. Melihat hal ini, Daud Beureueh dan tokoh tua Aceh yang sudah tenang kemudian bergerilya kembali untuk mengembalikan kehormatan rakyat, adat Aceh dan agama Islam.

Pertemuan digagas tahun 1970-an. Mereka sepakat meneruskan pembentukan Republik Islam Aceh, yakni sebuah negeri yang mulia dan penuh ampunan Tuhan. Kini mereka sadar, tujuan itu tak bisa tercapai tanpa senjata. Lalu diutuslah Zainal Abidin menemui Hasan Tiro yang sedang belajar di Amerika. Pertemuan terjadi tahun 1972 dan disepakati Tiro akan mengirim senjata ke Aceh. Zainal tak lain adalah kakak Tiro. Sayang, senjata tak juga dikirim hingga Beureueh meninggal. Hasan Asleh, Jamil Amin, Zainal Abidin, Hasan Tiro, Ilyas Leubee, dan masih banyak lagi berkumpul di kaki Gunung Halimun, Pidie. Di sana, pada 24 Mei 1977, para tokoh eks DI/TII dan tokoh muda Aceh mendirikan GAM.

Selama empat hari bersidang, Daud Beureueh ditunjuk sebagai pemimpin tertinggi. Sementara Hasan Tiro yang tak hadir dalam pendirian GAM itu ditunjuk sebagai wali negara. GAM terdiri atas 15 menteri, empat pejabat setingkat menteri dan enam gubernur. Mereka pun bergerilya memuliakan rakyat Aceh, adat, dan agamanya yang diinjak-injak Soeharto.



Miliki Pabrik Senjata dan Pusat Pelatihan di Libia
Setelah didirikan, GAM mendapat dukungan rakyat. Hubungan dengan dunia internasional terus dibangun. Kekuatan bersenjata pun disusun. Berapa anggota GAM, bagaimana kekuatannya, jaringan internasionalnya, dan dananya?

Masih ingat deadline maklumat pemerintah 12 Mei 2003 lalu. Hingga batas waktu ultimatum, pemerintah tak juga mengeluarkan keputusan sebagai tanda awal operasi militer ke Aceh. Konon, saat itu pemerintah menghitung kekuatan TNI di sana. Ada kekhawatiran, TNI bakal dilibas GAM melalui perang gerilya. Secara tidak langsung, kabar ini menyiratkan ketangguhan kekuatan bersenjata GAM. Sesungguhnya jumlah anggota GAM itu sebagian besar rakyat Aceh. Filosofinya begini. Jika rakyat terus ditindas, maka seluruh rakyat itu akan bangkit melawan. Dan, hal seperti inilah yang terjadi di bumi Serambi Mekah itu. Perlawanan GAM mendapat simpati luar biasa dari rakyat Aceh. Rakyat yang lama ternista dan teraniaya.

Sambil berkelakar, Panglima Tertinggi GAM dan Wakil Wali Negara Aceh Tengku Abdullah Syafei (alm) sempat mengatakan, bayi-bayi warga Aceh telah disediakan senjata AK-47 oleh GAM. Mereka akan dididik dan dilatih sebagai tentara GAM dan segera pergi berperang melawan TNI. Sejatinya, basis perjuangan GAM dilakukan dalam dua sisi, diplomatik dan bersenjata. Jalur diplomasi langsung dipimpin Hasan Tiro dari Swedia. Opini dunia dikendalikan dari sini. Sementara basis militer dikendalikan dari markasnya di perbatasan Aceh Utara-Pidie. Seluruh kekuatan GAM dioperasikan dari tempat ini. Termasuk, seluruh komando di sejumlah wilayah di Aceh dan di beberapa negara seperti Malaysia, Pattani (Thailand), Moro (Filipina), Afghanistan, dan Kazakhstan. Tetapi, kerap GAM menipu TNI dengan cara mengubah-ubah tempat markas utamanya. Di seluruh Aceh, GAM membuka tujuh komando, yaitu komando wilayah Pase Pantebahagia, Peurulak, Tamiang, Bateelik, Pidie, Aceh Darussalam, dan Meureum. Masing-masing komando dibawahi panglima wilayah.

Sejak berdiri tahun 1977, GAM dengan cepat melakukan pendidikan militer bagi anggota-anggotanya. Setidaknya tahun 1980-an, ribuan anak muda dilatih di camp militer di Libia. Saat itu, Presiden Libia Mohammar Khadafi mengadakan pelatihan militer bagi gerakan separatis dan teroris di seluruh dunia. Hasan Tiro berhasil memasukkan nama GAM sebagai salah satu peserta pelatihan. Pemuda kader GAM juga berhasil masuk dalam latihan di camp militer di Kandahar, Afghanistan pimpinan Osama bin Laden. Gelombang pertama masuk tahun 1986, selanjutnya terus dilakukan hingga akhir 1990. Selama DOM, pengiriman tersendat. Tetapi, angkatan 1995-1998 sudah mendapat latihan intensif. Ketika DOM dicabut, prajurit dari Libia ini ditarik ke Aceh. Jumlahnya sekitar 5.000 personel dan dijadikan pasukan elite GAM (semacam Kopassus).

Jalur ke Libia memang agak mudah. Dari Aceh, para pemuda Aceh itu dikirim melalui Malaysia lalu menuju Libia. Jalur lainnya dari Aceh lalu ke Thailand menuju Afghanistan dan melanjutkan ke Libia. Dari jalur ketiga, yakni melalui Aceh menuju Filipina Selatan dan ke Libia. Tiga jalur penting ini hampir selalu lolos dari jangkauan petugas imigrasi, polisi, dan patroli TNI-AL.

Di era Syafei hingga sekarang dipegang Muzakkir Manaf, personel GAM terdiri atas pasukan tempur, intelijen, polisi, pasukan inong baleh (pasukan janda korban DOM) dan karades (pasukan khusus) serta Lasykar Tjut Nyak Dien (tentara wanita). Wakil Panglima GAM Wilayah Pase Akhmad Kandang (alm) pernah mengklaim, jumlah personel GAM 70 ribu. Anggota GAM 490 ribu. Jumlah itu termasuk jumlah korban DOM 6.169 orang. Sumber resmi Mabes TNI cuma menyebut sekitar enam ribu orang. Mantan Menhan Machfud MD menyebut 4.869 personel. Dari jumlah itu, 804 di antaranya dididik di Libia dan 115 dilatih di Filipina-Moro. Persediaan senjatanya terdiri atas pistol, senapan, GLM, mortir, granat, pelontar granat, pelontar roket, RPG, dan bom rakitan. Jenis senapan di antaranya AK-47, M-16, FN, Colt, dan SS-1.

Dari mana persenjataan itu diperoleh? Ada jalur internasional yang menyuplainya. Sejumlah negara disebut antara lain, gerakan separatis Pattani Thailand, Malaysia, gerakan Islam Moro Filipina, eks pejuang Kamboja, gerakan separatis Sikh India, gerakan Elan Tamil, dan Kazhakstan serta Libia dan Afghanistan. GAM juga membuat pabrik senjata. Di antaranya, di Kreung Sabe, Teunom-Aceh Barat, Lhokseumawe, Nisau-Aceh Utara, serta di Aceh Timur. Jenis senjata yang diproduksi seperti bom, amunisi, senjata laras panjang dan pendek, pabrik senjata ini bisa dibongkar pasang sesuai dengan kondisi medan. Jika akan diserbu TNI, pabrik senjata telah dipindahkan ke daerah lain. Para ahli senjata disekolahkan ke Afghanistan dan Libia.



Peran Donatur-Donatur Kaya
Pasar gelap senjata ini dilakukan oleh oknum TNI dan Polri yang haus kekayaan. Bagi GAM, asal ada senjata, uang tidak masalah. Sebab, faktanya GAM ternyata memiliki sumber dana yang sangat besar. Jumlah pembelian ke oknum TNI/Polri ini bisa trilyunan rupiah. Sebuah penggerebekan tahun 2000 oleh Polda Metro Jaya sempat menemukan kuitansi Rp 3 milyar untuk pembelian senjata GAM di pasar gelap dari oknum TNI.

Kini, senjata yang dimiliki TNI juga dimiliki GAM. Yang tak dimiliki GAM adalah senjata berat. Sebab, sifatnya yang lamban. Prinsip GAM, senjata itu harus memiliki mobilitas tinggi, mudah dibawa ke mana-mana. Sebab, strategi perangnya yang hit and run. GAM bahkan mengaku memiliki senjata yang lebih modern daripada TNI. Misalnya, senjata otomatis yang dimiliki para karades. Senjata otomatis, berbentuk kecil mungil itu bisa tahan berhari-hari dalam air. Anggota karades inilah yang biasa menyusup ke kota-kota dan menyergap anggota TNI/Polri yang teledor.

Membeli senjata tentu dengan uang melimpah. Sebab, harganya yang tak murah. Lantas, dari mana mereka mendapatkan dana? GAM memiliki donatur tetap dari pengusaha-pengusaha Aceh yang sukses di luar negeri. Di antaranya, di Thailand, Malaysia, Singapura, Amerika, dan Eropa. Dana juga didapatkan dari sumbangan wajib yang diambil dari perusahaan-perusahaan lokal dan multinasional di Aceh.

Sebagai gambaran, tahun 2000 lalu, GAM meminta sumbangan wajib kepada seorang pengusaha lokal bernama Tengku Abu Bakar sebesar Rp 100 juta. Abu Bakar diberi surat berkop Neugara Atjeh-Sumatera tertanggal 15 Februari 2000 yang ditandatangani oleh Panglima GAM Wilayah Aceh Rajek Tengku Tarzura.

Mantan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pernah menyebut Pupuk Iskandar Muda pernah menyetor Rp 10 milyar ke GAM untuk biaya keamanan. GAM kerap melakukan gangguan bila tidak mendapatkan sumbangan wajib tersebut. Makanya, setiap bulan, GAM mendapat upeti dari para pengusaha ''sahabat GAM'' itu.

Sistem komunikasi GAM juga sangat canggih. Sistem komunikasi berlapis dilakukan GAM sebagai benteng pertahanan dan propaganda. Selain handytalky, GAM juga memiliki radio tranking, radar dan telepon satelit. GAM juga memiliki penyadap telepon. Acap kali gerakan TNI/Polri dimentahkan aksi-aksi penyadapan ini. Penggerebekan sering kali gagal total.

Sistem organisasinya yang disusun dengan sistem sel juga membantu GAM survive. Tidak mudah menemukan markas GAM. Meski, ada sebagian anggota GAM yang ditangkap. Antara anggota dan pejabat satu dengan yang lain kadang tidak berhubungan, tidak saling mengenal.

Ketua Umum Forum Perjuangan dan Keadilan Rakyat Aceh (FOPKRA) Shalahuddin Al Fatah menuturkan, sejak zaman Belanda, rakyat Aceh memang tidak pernah menang. Tetapi, rakyat Aceh tidak pernah ditaklukkan. Fakta sejarah pula, gerakan rakyat Aceh menentang pusat tidak pernah menang. Tetapi, TNI tidak pernah bisa menaklukkan mereka. (sumber)

Wednesday, January 9, 2013

Sebanyak 3 Partai Lokal Aceh Pastikan Diri Ikuti Pemilu 2014

Tiga partai politik lokal di Provinsi Aceh ditetapkan sebagai peserta pemilihan umum legislatif tingkat provinsi dan kabupaten serta kota di daerah itu pada 2014.

Komisioner Komisi Independen Pemilihan (KIP) Provinsi Aceh Zainal Abidin di Banda Aceh mengatakan, ketiga partai politik lokal (parlok) tersebut, yakni Partai Nasional Aceh (PNA), Partai Damai Aceh (PDA) dan Partai Aceh (PA).

“Ketiga partai politik lokal tersebut sudah ditetapkan sebagai peserta pemilu 2014. Kini, ketiganya tinggal menunggu pencabutan nomor urut. Informasinya, pencabutan nomor urut dilakukan Senin (14/1/2013). Nomor urut parlok mengikuti nomor urut partai politik nasional,” kata dia, Rabu (9/1/2013).

Dari ketiga parlok tersebut, kata dia, Partai Aceh dinyatakan lolos otomatis karena memenuhi “electoral threshold” atau ambang batas kursi di DPR Aceh minimal lima persen.

Sedangkan PNA dan PDA, kata Zainal Abidin, ditetapkan sebagai peserta pemilu setelah dinyatakan lulus verifikasi administrasi dan verifikasi faktual.

“Syarat lulus verifikasi faktual harus memiliki harus memiliki dua per tiga kepengurusan dari 23 kabupaten dan kota dan dua per tiga kepengurusan kecamatan di setiap kabupaten dan kota serta memiliki anggota dari seper seribu penduduk di setiap kecamatan,” katanya.

Berdasarkan syarat tersebut, lanjut dia, PNA mengajukan dokumen verifikasi faktual di 21 kabupaten dan kota dan PDA 19 kabupaten/kota. Dokumen verifikasi faktual kedua partai tersebut melebihi syarat minimal, yakni 16 kabupaten dan kota.

Hasil verifikasi faktual tersebut, kata dia, kedua partai lokal itu dinyatakan memenuhi syarat, sehingga keduanya ditetapkan sebagai peserta Pemilu 2014.

“Ketiga partai politik lokal tersebut hanya bisa mengikuti pemilu legislatif DPR Aceh dan pemilihan anggota DPRK di 23 kabupaten dan kota di Provinsi Aceh,” kata Zinai Abidi. (sumber)

Friday, June 15, 2012

Beberapa Objek Wisata Tsunami Di Banda Aceh

Mesjid Raya Baiturrahman
Saat tsunami melanda, Mesjid ini merupakan Mesjid yang sangat beruntung dari sekian banyak objek wisata yang hancur tersapu gelombang. Sekalipun gelombang tsunami sampai ke daerah ini bahkan ke pelataran Mesjid, namun tsunami tidak menghancurkan bangunan Mesjid ini. Mesjid ini tetap berdiri kokoh ditengah hancurnya suasana kota. Mesjid ini hanya mengalami sedikit kerusakan yang tidak berarti.

Rumah Cut Nyak Dien
Rumah Cut Nyak Dien ini, terletak di kawasan yang parah dihantam tsunami. Pada saat tsunami, rumah Cut Nyak Dien ikut terkena air, dan air memasuki rumah sehingga banyak  barang-barang yang rusak. Bahkan Orang-orang dari kampong disekitarnya banyak yang mengungsi di atap rumah ini, hingga atapnya mengalami kerusakan parah sehingga atapnya  perlu diganti. Sekalipun gelombang tsunami memasuki daerah ini, namun keberadaannya masih tetap dipertahankan hingga saat ini. Pemerintah telah memperbaiki segala kerusakannya, tetapi   tetap tidak mengurangi nilai sejarahnya.

Kapal PLTD (Pembangkit Listrik Tenaga Diesel) Apung
Pembangkit Tenaga  Listrik  Diesel  (PLTD)  Apung  berlokasi  di  Gampong Punge Blang Cut-Banda Aceh. Tongkang besar milik PLN ini memiliki bobot mati 2.500 ton dan luas lambung 1.600 meter persegi. Menurut publikasi Dinas Pariwisata Kota Banda Aceh, pada awalnya kapal PLTD ini sengaja didatangkan PT PLN ke Banda  Aceh  guna  memenuhi  kebutuhan  listrik  warga  kota  karena  terjadi  deficit pasokan listrik. Saat itu banyak menara transmisi listrik dari Sumatera Utara ke Aceh ditebang oleh pihak pemberontak pada masa konflik, sehingga PLN menempatkan Kapal Generator Listrik untuk menyuplai kebutuhan listrik di Banda Aceh melalui jalur laut.
Belum  sempat  sepenuhnya  kapal  ini  menyuplai  pasokan  listrik  ke  seluruh Kota Banda  Aceh, kapal ini harus menerima akibat  ganasnya gelombang tsunami besar yang terjadi pada tanggal 26 Desember 2004 itu. Gelombang dahsyat tsunami mampu membuat kapal tongkang tersebut terhempas hingga empat kilometer dari posisinya semula sebelum tsunami, yakni di Dermaga Ulee Lheue. Gelombang hebat membawanya ke tengah permukiman padat penduduk sehingga menimbulkan korban nyawa dan bangunan. PLTD yang bentuknya seperti  kapal feri penyeberangan Merak-Bakaheuni tersebut, terbawa arus tsunami yang digambarkan oleh penduduk kira-kira berkecepatan 200 km per jam.
Tidak ada yang menyangka, PLTD yang tertambat dengan jangkar baja bisa terlepas begitu saja hingga menindih sekitar 20 orang yang ikut hanyut serta sejumlah rumah dan mobil di bawahnya. Menurut pengakuan seorang penduduk setempat yang melihat pada waktu peristiwa itu terjadi, kapal PLTD tersebut meliuk-liuk dibawa gelombang hingga menindih apa saja yang ada di bawahnya saat air perlahan-lahan menyurut.  Kini paling  tidak,  di bawah kapal PLTD  itu  masih  terdapat  sekitar  20 mayat yang masih tertimbun. Ada juga bangkai mobil yang bagaikan kaleng kerupuk masih  bersemayam di  bawah  kapal.  Tak  ada  satu  orang  pun  yang  mampu  untuk mengambil mayat yang ditindih oleh besi seberat 2.500 ton itu.
Sebenarnya pada saat itu, pihak PLN sendiri sudah berpikiran untuk memindahkan PLTD itu. Namun pihak pemerintah provinsi Aceh masih keberatan karena mereka tertarik untuk menjadikannya sebagai prasasti serta kenang-kenangan bagi korban tsunami. Padahal, mesin PLTD yang memiliki kemampuan daya 20 MW itu masih bisa dipakai untuk mengaliri listrik dan mesinnya tidak rusak. PLN sendiri tidak keberatan kalau badan PLTD itu dibiarkan  bersemayam di lokasi sekitar perumahan penduduk Jaya Baru, karena disadari betul oleh pihak  PLN bahwa memindahkan badan PLTD apung itu tidak gampang karena harus melewati beberapa rumah penduduk yang masih kokoh berdiri disekitar situ. Namun PLN tetap menghendaki mesinnya, karena masih dapat dipakai untuk menghasilkan listrik bagi masyarakat Aceh.
Dan  akhirnya  kini,  tongkang  PLTD  tersebut  sudah  tidak  difungsikan  lagi, pihak  PLN  sudah  mencabut  mesinnya  hingga  kapal  PLTD  ini  kini  resmi  dibuka sebagai objek wisata. Pengunjung  yang datang,  bisa naik ke atas geladak setinggi lebih  kurang  20  meter  karena  di sisi  tongkang  sudah  dibuat  tangga  besi  lengkap dengan pagar hingga ke geladak untuk memudahkan pengunjung menaikinya. Dari atas geladaknya, pengunjung bisa menyaksikan  pemandangan  luas  ke  berbagai belahan kota di Banda Aceh. Tampak jelas, betapa jauhnya jarak pantai dengan lokasi tongkang  tersebut  terdampar.  Dari  situ  pengunjung  bisa  membayangkan  betapa dahsyatnya hempasan gelombang tsunami. Bahkan, di sekitar PLTD masih terlihat jelas sisa-sisa dinding dan atap bangunan yang hancur diterjang gelombang.

Taman Edukasi Tsunami
Hanya terpaut -/+ 30 meter dari letak kapal PLTD Apung, sebuah taman telah selesai dibangun yang disumbangkan oleh PT. BMW Indonesia dan Yayasan Citra Mandiri Jakarta. Taman untuk pembelajaran/simulasi tsunami ini diberi nama ‘Taman Edukasi Tsunami’. Taman ini termasuk dalam area rencana pembangunan monument tsunami. Ditaman ini terdapat jenis pohon-pohon langka yang pernah tumbuh di Aceh dan telah hilang ditebas gelombang tsunami, seperti pohon jeumpa, pohon seulanga, pohon cempaka, pohon asam dan lain-lainnya. Juga terdapat kolam ikan yang besar, fasilitas  permainan  anak-anak,  disamping  bangunan  utama  yaitu  gedung  simulasi tsunami  yang  memamerkan dokumentasi/foto-foto  kejadian tsunami.  Digedung  ini ada tribun terbuka untuk pertunjukan film dokumenter tentang kejadian/kisah saat bencana tsunami terjadi serta dapat dimanfaatkan untuk pertunjukan seni.
Kedua objek wisata kapal PLTD Apung dan Taman Edukasi Tsunami, setiap harinya selalu ramai dikunjungi masyarakat. Selain masyarakat  Aceh sendiri yang datang berkunjung, juga banyak masyarakat yang datang dari luar Aceh, pengunjung domistik maupun wisatawan dari mancanegara. Mereka bukan hanya melihat kapal, tapi mengabadikannya baik dari atas kapal maupun berfoto disekeliling kapal sebagai kenang-kenangan.

Museum Tsunami
Gedung  museum  tsunami  ini  dibangun  pada  lahan  seluas  satu  hektar, berlokasi  di  sekitar  Lapangan  Blang  Padang,  Banda  Aceh. Mengenai struktur, museum tsunami dilengkapi berbagai fasilitas publik seperti mushala, ruang audio visual yang akan menyajikan semua data korban yang direkam dalam video dan foto-foto yang berhubungan dengan hal tersebut dan didokumentasikan secara sempurna.


Kapal Apung Lampulo
Tidak hanya itu, museum tsunami ini juga dilengkapi dengan toko cinderamata disekitar  lokasi. Museum ini memiliki struktur khas yaitu tinggi dan besar serta ukuran tugu yang  mengikuti pola 26-12-2004. Angka tersebut mewakili seluruh peristiwa dan makna saat tsunami dahsyat itu menerjang Aceh.
Kapal ini adalah salah satu dari dari kapal-kapal yang terdampar kedaratan pada saat terjadi bencana Tsunami beberapa waktu lalu. Hingga saat ini keberadaan kapal ini tetap dipertahankan sebagai obyek wisata untuk mengingat akan peristiwa tersebut, dan dijadikan  salah satu situs Peringatan Tsunami. Kapal nelayan yang berdiri di salah satu atap rumah warga ini berlokasi Kampung Lampulo, Kec. Kuta Alam Kota Banda Aceh atau sekitar 1 km dari Dermaga Lampulo.
Sampai saat ini, kapal ini masih dibiarkan dalam bentuk aslinya tanpa ada perubahan yang berarti. Di kawasan pemukiman padat ini, kapal tersebut terlihat berdiri kokoh dan cukup  menarik perhatian. Yang paling menonjol adalah sebuah rumah dibawah kapal terdampar ini, masih dihuni oleh keluarga M.Hisbah, salah satu penduduk Kampung Lampulo dan diresmikannya lokasi ini sebagai objek wisata sangat disetujui oleh pemilik rumah. Menurut pengakuannya, ia membuat kapal ini sengaja dikuatkan posisinya dan ia rela untuk menjaga lokasi ini.
Kapal ini memiliki jasa besar buat warga kampung setempat dan keluarga M.Hisbah sendiri. Saat kejadian, kapal ini terlempar, warga yang berada didekatnya mengungsi ke lantai atas lalu masuk ke kapal. Ada 54 warga yang diselamatkan kapal ini. Setelah tsunami surut, tanpa disadari kapal ini malah bertengger di atap rumahnya. Kejadian inilah, yang membuat banyak warga yang menjuluki sebagai kapal “Nabi Nuh” karena mampu menyelamatkan warga.
Keberadaan kapal terdampar ini dilengkapi oleh para pedagang yang berjualan souvenir  khas Aceh dan makanan-makanan ringan disekitar lokasi ini. Datangnya para pedagang ini dimulai semenjak resminya lokasi ini dibuka sebagai salah satu objek wisata peninggalan tsunami.

Saturday, April 14, 2012

Gas PT Arun Habis, Indonesia Tipu Rakyat Aceh, Bagi Hasil 70/30% Hanya Pepesan Kosong

38 tahun telah berlalu, gas dari perut bumi Aceh dikuras habis-habisan hanya untuk memuaskan masyarakat USA, Jepang, Jerman, Belanda dan Korea. Dimulai dari tahun 1974 kilang gas alam cair milik PT Arun didirikan diatas tanah Blang Lancang dan Rancong yang sebelumnya telah dihuni oleh 542 KK. Akibatnya warga yang sudah lama menetap diderah itu harus rela digusur dengan adanya jaminan bahwa pemerintah akan menyediakan perkampungan baru (relokasi).
Ekploitasi gas alam Arun berakhir 2014, namun janji tinggal janji, rakyat Aceh umumnya  khususnya warga yang digusur PT Arun 38 Tahun lalu ditipu mentah-mentah oleh Negara Kesatuan Republik Indonesia, MoU sich hanya tulisan untuk mengkibuli rakyat Aceh, asal dealnya jelas dengan elit GAM, 70/30% adalah sejarah kelam Aceh ditipu oleh Indonesia yang kesekian kalinya.
Usia warga yang mulai menua dimakan zaman, hingga telah memiliki anak dan cucu janji pemerintah akan menyediakan perkampungan baru bagi korban gusur PT Arun pupus sudah harapan. Setahun yang lalu yakni, pada tahun 2011 kesabaran masyarakat eks Blang Lancang dan Rancong berada diatas puncaknya. 19 September 2011 masyarakat tersebut dibantu aktivis Mahasiswa menggelar demo dengan mengepung PT Arun NGL Co Kecamatan Muara satu Kota Lhokseumawe.
Tak tanggung-tanggung para demonstran itu berjumlah sekitar 2000 orang, tak mau ambil risiko aparat keamanan pun disiagakan. Polisi dari tiga Polres Aceh Utara, Lhokseumawe dan Bireuen dikerahkan, bahkan dianggap masih kurang Pihak kepolisian dibantu TNI-AD untuk memblokade area dan TNI-AL untuk mencegah demonstran masuk melalui perairan ke dalam perusahaan gas itu.
Selasa, 20 September 2011 sehari sesudah dilakukannya demo, masyarakat menghentikan aksi demonya karena mendapat angin surga dari salah satu anggota DPR RI Marzuki Daud dengan mengatakan bahwa dana ganti rugi lahan seluas 121,9 hektare di Ujong Pacu telah masuk dalam Banggar DPR RI dialokasikan dalam APBN-P 2011 dengan jumlah nominal mencapai 30 miliar rupiah. Marzuki pada waktu itu juga sempat menegaskan bahwa sebagai wakil rakyat dia tidak akan bertanggung jawab jika masih ada masyarakat yang melakukan demo, “hancur-hancuran sekalian, kami tidak akan bertanggung jawab,” ancam anggota DPR-RI itu.
Untuk menarik simpati para demonstran yang melakukan pemblokiran agar bubar dan pulang kerumah masing-masing secara tertib, orang nomor satu di Aceh itu juga memberikan jaminan harga dirinya, “Saya akan mempertaruhkan diri saya untuk segera menyelesaikan perkampungan baru bagi warga eks Blang Lancang. Jika ini gagal, maka bukan hanya saya yang malu, tapi DPRK dan Pemerintah Aceh secara keseluruhan akan malu,” ujar Irwandi memastikan janjinya yang tak main-main.
Tahun telah berganti, sekarang, Jum’at 12 Januari 2012 genap sudah 38 tahun namun janji-janji manis yang keluar dari mulut bau busuk Irwandi dan Marzuki belum terwujud. Masyarakat menagih janji yang dulu pernah dinyanyikan oleh mereka. Sekali lagi masyarakat harus menelan pil pahit, ternyata dalam APBN 2012 tidak tertampung anggaran ganti rugi lahan untuk pertapakan resettlement warga eks Blang Lancang dan Rancong.
“Saya sudah perjuangkan, tapi dana itu tidak dapat ditampung dalam APBN 2012, dianggap tidak urgen karena dianggap ganti rugi tahap ke dua. Tahap pertama sudah dibayar ganti rugi saat relokasi warga sekitar tahun 1974,” jawab Marzuki enteng.
Menjelang penghujung tahun baru, Kamis, 29 Desember 2011 diruang pertemuan Sekda Aceh, rapat pun digelar yang dipimpin oleh Sekda Aceh T. Setia Budi serta dihadiri Biro Pemerintahan Aceh, Asisten 1 provinsi Aceh, Biro Pertanahan Aceh, Ketua IKBAL, Sekretaris IKBAL dan beberapa anggota IKBAL, tak tertinggal juga beberapa koordinator serta perwakilan dari masyarakat eks Blang Lancang dan Rancong turut hadir guna mencari solusi proses tindak lanjut permasalahan relokasi pemukiman baru bagi 542 KK masyarakat tergusur Blang Lancang – Rancong.
Dalam rapat tersebut, M. Jubir Ajalil selaku sekretaris IKBAL mengharapkan agar permasalahan relokasi pemukiman baru juga sarana dan prasarana bagi 542 KK masyarakat tergusur Blang Lancang dan Rancong dapat diakomodir dalam anggaran APBA 2012 karena di APBN-P 2011 dan APBN 2012 tidak diakomodir.
T. Setia Budi menjawab, “untuk dianggarkan dalam APBA 2012 tidak mungkin karena KUA dan PPAS sudah selesai pembahasan tapi akan kami sampaikan juga ke Gubernur,” jelas Sekda Aceh.
Sekretaris IKBAL itu menimpali, “walaupun KUA dan PPAS sudah selesai dibahas kalau pemerintah Aceh serius menyelesaikan bisa bapak ambil kebijakan karena persoalan ini persoalan pemerintah Aceh dan Pertamina,” ujarnya.
Dia juga menambahkan, “Pertamina sudah siap, dananya sudah ok untuk pembangunan sarana dan prasarana juga satu hal lagi Pertamina mau melepaskan aset 121,9 H dengan cara ganti rugi antara 26-30 miliar. Itu hasil pertemuan muspida Kota Lhokseumawe di kantor Komnas HAM Jakarta kebetulan dari provinsi tidak ada yang hadir karena Gubernur Aceh berangkat ke Belanda, itupun bila pemerintah Aceh mau menjaminnya juga bisa bayar secara cicil dalam jangka 10 tahun pertamina mau,” jelas M. Jubir Ajalil.
Dengan penuh harap M. Jubir Ajalil meminta pemerintah Aceh agar menyurati Pertamina, Pemkot Lhokseumawe, perwakilan Ikbal, dan pemerintah Aceh sendiri untuk membuat pertemuan agar permasalahan jelas.
Kepada Reporter Acehtraffic.com Marzuki meminta agar  masalah Resettlement warga eks Blang Lancang jangan dikomentar sekarang. Karena masalah tersebut sedang dibicarakan oleh Mentri BUMN, DPR dan juga Pertamina agar lebih konkrit. “ Segala macam cara sudah kita tempuh, meskipun sudah yang kedua kalinya gagal, namun kita harapkan untuk cara yang ketiga ini berhasil. Jika Dahlan Iskandar setuju untuk hibah maka SK harus dikeluarkan oleh Mentri BUMN,” tutur Marzuki Daud anggota DPR-RI asal Aceh melalui telpon selulernya tadi malam, Kamis 12 Januari 2012.
Ketika kami mencoba bertanya kembali pada Marzuki Daod apakah anggaran itu akan diusulkan pada APBNP 2012? Tadi siang, Sabtu 14 April 2012, Namun awak DPR RI itu tidak bisa dihubungi.

Sumber : http://www.acehtraffic.com/2012/04/gas-pt-arun-habis-indonesia-tipu-rakyat.html

Monday, April 9, 2012

Hasil Quick Count, Zaini Abdullah-Muzakir Manaf Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh Periode 2012-2017

Beberapa waktu yang lalu Citra Publik Indonesia - Lingkaran Survei Indonesia Group (CPI-LSI) mengumumumkan hasil perhitungan cepat (quick count) yang menyatakan bahwa pasangan Zaini Abdullah-Muzakir Manaf keluar sebagai pemenang dalam Pilkada Aceh 2012.
Quick count sendiri adalah metode perhitungan suara pemilihan umum secara cepat dengan cara mengambil beberapa sampel suara yang ada dibeberapa TPS (Tempat Pemungutan Suara). Hasil dari quick count diyakini keakuratannya sebesar 98%, jadi hanya ada terjadi human error sebesar 2 %.
Pasangan ZIKIR (Zaini-Muzakir) unggul telak terhadap lawan-lawannya yaitu sebesar 54,15 % raihan suara, pesaing terdekat dari pasangan tersebut adalah pasangan incumbent yakni Irwandi Yusuf-Muhyan Yunan sebesar 30,05 %. Sementara itu ketiga pasangan lainnya meraih suara kurang dari 10%. Berikut hasil lengkap dari quick count bedasarkan suara terbanyak yang dirilis oleh Citra Publik Indonesia - Lingkaran Survei Indonesia Group (CPI-LSI) :

  1. dr. Zaini Abdullah dan Muzakir Manaf  54.15%
  2. drh. Irwandi Yusuf dan DR. Ir. Muhyan Yunan, Hsc. PH. D 30.05%
  3. Muhammad Nazar, S. Ag dan Ir. Nova Iriansyah  7.82%
  4. Prof. DR. H. M. Darni Daud, MA dan DR. Ahmad Fauzi, M. Ag  4.12%
  5. Tgk. Ahmad Tajuddin dan Ir. Suriansyah  3.86%
Mengingat keakuratan hasil penghitungan suara pemilu dengan quick count yakni sebesar 98%, maka impian dari pasangan yang diusung oleh Partai Aceh yang memiliki basis kader terbesar di Aceh tesebut untuk menjadi orang No.1 dan 2 di Aceh akan segera tercapai.
Selamat bagi Gubernur dan Wakil Gubernur terpilih, semoga mampu memimpin Aceh dengan baik. Aamin... 

Sunday, April 8, 2012

Hari ini Pilkada Aceh, Zaini Abdullah-Muzakir Manaf Terpopuler di MCN Blog

Alhamdulillah pesta demokrasi rakyat Aceh sedang diselenggarakan pada hari ini tanggal 9 April 2012. Pada hari ini selain akan memilih gubernur dan wakil gubernur, masyarakat Aceh juga akan memilih bupati/wakil bupati dan walikota/wakil walikota dari 23 kabupaten/kota yang ada di provinsi Aceh.
Pilkada Aceh 2012 yang bertemakan "Pilkada Damai" ini telah menjadi sorotan mata publik Indonesia bahkan dunia, jadi besar harapan bagi seluruh masyarakat agar Pilkada Aceh 2012 benar-benar terlaksanakan dengan damai. Siapapun pemenangnya nanti diharapkan menjadi sosok yang mampu membawa Aceh ke arah perubahan yang lebih baik, dan bagi yang kalah harap berbesar hati menerima kekalahannya, dan tetap mendukung gubernur Aceh yang terpilih untuk bersama-sama membangun Aceh.

Postingan ini bukan bermaksud ingin mencoba untuk meramalkan hasil Pilkada nanti, atau bahkan ikut mengkampanyekan salah satu pasangan calon gubernur, tidak. Admin cuma iseng-iseng ingin menampilkan fakta unik yang terjadi di blog ini terkait dengan Pilkada Aceh tahun 2012.Ya, pada tanggal 1 April 2012 yang lalu Admin telah mempublikasikan profil dan visi-misi kandidat gubernur Aceh 2012.
Dan ternyata dari kelima kandidat tersebut, pasangan nomor urut lima yaitu Zaini Abdullah-Muzakir Manaf menjadi profil yang paling banyak dicari oleh masyarakat atau bisa dikatakan paling populer dan masuk dalam Top 5 minggu ini di MCN Blog. Top 5 adalah lima postingan terpopuler dalam satu minggu dari semua postingan yang ada di blog ini, peringkat ditentukan bedasarkan jumlah impresi atau klik yang dilakukan oleh pembaca MCN Blog selama satu minggu. Menarik kita lihat, dalam Top 5 terlihat dari lima pasang kandidat cuma satu kandidat yang tidak sanggup menembus Top 5 yakni pasangan Darni M Daud-Ahmad Fauzi, sementara empat pasangan lainnya mampu masuk ke jajaran Top 5.
Diposisi puncak terdapat pasangan Zaini Abdullah-Muzakir Manaf, kemudian disusul pasangan Ahmad Tajuddin-Teuku Suriansyah yang menduduki posisi ketiga, dan terjadi persaingan ketat diposisi keempat dan kelima yaitu berurutan pasangan Irwandi Yusuf-Muhyan Yunan pasangan Muhammad Nazar-Nova Iriansyah. Dan berikut jumlah impresi yang didapatkan oleh para calon gubernur dan wakil gubernur Aceh tahun 2012. 
  1. Zaini Abdullah-Muzakkir Manaf (449 penayangan)
  2. Ahmad Tajuddin-Teuku Suriansyah (283 penayangan)
  3. Irwandi Yusuf-Muhyan Yunan (192 penayangan)
  4. Muhammad Nazar-Nova Iriansyah (178 penayangan)
  5. Darni M Daud-Ahmad Fauzi (125 penayangan)
Hasil diatas adalah jumlah impresi dari tanggal 1 April 2012 09.00 - 9 April 2012 09.00, hasil diatas bisa berubah dari waktu ke waktu mengingat banyaknya msayarakat yang mencari informasi di internet.

Thursday, April 5, 2012

Analisis Website Pemda Kabupaten Pidie Jaya (Aceh)

A. Pendahuluan

Organisasi pemerintah yang berbasis kepada Teknologi Informasi menjadi hal yang sangat penting dalam abad ke 21 di era milineum ketiga ini. Teknologi Informasi adalah suatu teknologi yang digunakan untuk mengolah data, termasuk memproses, mendapatkan, menyusun, menyimpan, memanipulasi data dalam berbagai cara untuk menghasilkan informasi yang berkualitas, yaitu informasi yang relevan, akurat dan tepat waktu.
Kekuatan suatu organisasi pemerintahan akan sangat tergantung kepada informasi atau pengetahuan yang dimilikinya, informasi akan menjadi perekat unsur-unsur yang ada dalam suatu organisasi.
Sejalan dengan itu, peran dan fungsi pemerintah dalam kerangka mensosialisasikan kebijakan dan informasi yang cepat sangat mutlak diperlukan. Salah satu langkah yang dilakukan adalah dengan membuat suatu portal website. Dengan adanya website, informasi, komunikasi, dan transaksi antara masyarakat dan pemerintah dilakukan via internet. Sehingga ada beberapa manfaat yang dihasilkan seperti misalnya, komunikasi dalam sistem administrasi berlangsung dalam hitungan jam, bukan hari atau minggu. Artinya, pelayanan pemerintah pada masyarakat menjadi sangat cepat, service dan informasi dapat disediakan 24 jam sehari, tujuh hari dalam seminggu. Informasi dapat dicari dari kantor, rumah, bahkan mobile dimanapun tanpa harus hadir secara langsung. Fungsi ini disebut sebagai fungsi pelayanan pemberian informasi secara G2C (Government to Citizen). Fungsi lainnya adalah G2B (Government to Business), dan G2G (Government to Government).


B. Fungsi & Manfaat Situs Resmi Pemerintah Daerah
Beberapa fungsi dan manfaat dari adanya website atau situs remi Pemerintah Daerah ini, antara lain :
  • Memperkenalkan dan mempromosikan kelebihan yang ada baik sumber daya alam maupun produk hasil bumi suatu daerah tertentu, agar dapat diketahui secara luas baik dalam skala nasional maupun internasional agar dapat menarik minat investor dalam negeri atau investor asing menanamkan modal di wilayah Pemerintah Daerah.
  • Memperlihatkan secara nyata kegiatan atau aktivitas yang dilakukan oleh Pemerintah Daerah dalam melaksanakan urusan pemerintahan kepada masyarakat umum secara luas.
  • Tersedianya sarana interaksi langsung antara Pemerintah Daerah dan masyarakat, terutama para perantau dari daerah asal yang ingin memperoleh informasi secara langsung akan perkembangan pembangunan di daerah asalnya dengan tersedianya konten berita dan forum.
  • Memberitakan produk-produk hukum yang dikeluarkan oleh Pemerintah Daerah dalam bentuk Peraturan Daerah (Perda) yang dapat dilihat oleh masyarakat umum.
  • Menjadi indikator dan barometer bagi pembangunan daerah dari suatu Pemerintah Daerah tertentu dengan Pemerintah Daerah lainnya, sehingga tiap daerah terpacu untuk membangun wilayah daerahnya masing-masing, dan memperluas wawasan Pemerintah Daerah akan informasi-informasi baru dari daerah lainnya.
Dari beberapa fungsi di atas, dapat diketahui bahwa informasi yang cepat dan tepat mempengaruhi perkembangan suatu daerah dalam skala regional, nasional maupun internasional.


C. Analisis Website Pemda Pidie Jaya
www.pidiejayakab.go.id adalah situs resmi pemerintah daerah Kabupaten Pidie Jaya yang merupakan salah satu kabupaten yang ada di Provinsi Aceh. Website ini ditujukan untuk masyarakat umum yang ingin mengakses informasi tentang Kabupaten Pidie Jaya.
1. Tampilan
Homepage atau tampilan awal merupakan salah satu yang akan mampu menjadi sebuah daya tarik tersendiri bagi pengunjung dari sebuah website. Dilihat dari segi tampilan, website ini memiliki tampilan yang standar seperti website-website pemerintah daerah pada umumnya, jadi untuk website pemerintah Kabupaten Pidie Jaya ini tidak ada hal istimewa yang dapat dijadikan sebagai ciri khas yang membedakannya dengan website dari pemerintah daerah lainnya.

2. Fitur
Fitur yang tersedia pada website ini bisa dikatakan cukup lengkap dengan berbagai link-link yang akan langsung menghubungkan kita kepada halaman yang ingin kita tuju. Misalnya bila kita ingin membaca tentang sejarah Pidie Jaya, motto, visi dan misi, dan lain sebagainya, kita hanya perlu menge-klik link yang bertuliskan hal tersebut untuk mendapatkan halaman yang memuat konten tersebut. Berikut gambar dari tampilan fitur dari website Kabupaten Pidie Jaya :


3. Kelebihan
  • Ada fasilitas search engine untuk mencari informasi yang kita inginkan.
  • Adanya peta situs (disini dinamakan dengan data-base) sehingga memudahkan kita untuk mengetahui isi dari web.
  • Terdapat poling jajak pendapat sehingga pemda dapat mengetahui pendapat masyarakat tentang data yang ingin diketahui pemerintah daerah Pidie Jaya.
  • Adanya forum untuk diskusi warga, sehingga masyarakat dapat mendiskusikan masalah-masalah yang sedang terjadi di Kabupaten Pidie Jaya.
  • Terdapat Peta Kabupaten Pidie Jaya (Download), hal ini sangat bermanfaat bagi pengunjung khususnya bagi pendatang baru yang belum mengetahui sama sekali tentang tempat-tempat di Kabupaten Pidie Jaya.
  • Terdapat link berita daerah maupun nasional :


4. Kekurangan
  • Berita kurang Up to Date, terlihat pada akses terakhir pada saat mau mem-publish postingan ini yaitu tanggal 6 April 2012, tapi berita terakhir adalah 29 Februari 2012. Jadi sudah lebih dari sebulan website tersebut tidak di-update.
  • Layout web kurang menarik
  • Tidak adanya penghitung jumlah pengunjung
  • Tidak adanya buku tamu
  • Tidak adanya pilihan bahasa bagi pengunjung luar negeri, hanya ada bahasa Indonesia
5. Kesimpulan
Setelah menelusuri website pemda Pidie Jaya, saya dapat menyimpulkan beberapa hal yang diantaranya :
  • Website ini sekilas cukup mempermudah masyarakat yang ingin mengetahui sekilas tentang Kabupaten Pidie Jaya beserta pemerintahannya, namun hal ini tidak akan berfungsi apabila masyarakatnya melek teknologi. Jadi perlu diadakannya sosialisasi website kepada masyarakat daerah. Fungsi dari G2C (Government to Citizen) terlaksanakan.
  • Berita-berita yang kurang up date membuat masyarakat khususnya masyarakat luar daerah menjadi tidak tahu info atau kejadian terkini dari pemerintah Kabupaten Pidie Jaya
  • Jika dilihat dari konteksnya isi dari website ini memang telah seusai dengan visi dan misi, namun tidak adanya interaksi sama sekali dalam website ini, informasi yang diberikan hanya bersifat publish saja. Forum yang disediakan tidak efektif karena kurang tanggapan.
  • Tampilan website yang terkesan kaku, menjadikan web ini kurang menarik perhatian pengunjung atau masyarakat.
6. Saran
Dari uraian-uraian diatas dapat disimpulkan bahwa Website Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya dengan tampilannya yang cukup baik dan informasi sudah memadai namun tidak dapat memberikan akses yang memadai bagi masyarakat karena website ini baru dalam tahapan publish, belum terdapat interaksi sama sekali dan informasi yang disampaikan pun tidak bersifat aktual, maka disini dibutuhkan peningkatan kualitas website dengan memberikan akses bagi masyarakat untuk berinteraksi secara online dengan pemerintah karena untuk menciptakan good governance membutuhkan e-gov yang baik.