Tuesday, July 12, 2011

Profil Saya

Nama saya adalah Saddam Rafsanjani, sebuah nama yang diambil dari pemimpin besar Irak (Saddam Husein) yang digabungkan dengan pemimpin Iran (Rafsanjani), lahir di Pidie, 12 November 1990. Tepatnya di sebuah kabupaten yang terkenal dengan salah satu pondok pesantren terbaik di Aceh (Dayah Jeumala Amal) yaitu Lueng Putu.

Foto wakto TK
Merantau adalah kehidupan saya, pada tahun 1996 saya sudah merantau ke Banda Aceh tepatnya di Darussalam, saya ikut dibawa oleh orang tua saya, karena kota Banda Aceh adalah tempat orang tua saya mencari nafkah. Dan pada tahun itu pula untuk pertama kali saya mengenyamkan pendidikan yaitu TK FKIP UNSYIAH, sebenarnya telat sih, seharusnya tahun tersebut saya sudah duduk di bangku sekolah dasar, tapi tak apalah daripada tidak sama sekali.

Setahun kemudian akhirnya saya duduk di bangku sekolah dasar, orang tua saya memilihkan saya SDN 69 Banda Aceh sebagai sekolah lanjutan bagi saya, salah satu kesan yang terbaik yang saya dapatkan ketika bersekolah disitu adalah pada tahun pertama, pada tahun saya menjadi salah satu anak emas di sekolah tersebut karena saya menjadi murid pertama yang lancar membaca (coolll), saya disebut murid ajaib karena tahun pertama sekolah sudah lancar membaca, berbeda dengan teman-teman yang lain pada saat itu masih belajar mengeja.

Enam tahun saya habiskan waktu untuk belajar dan bermain di sekolah dasar, kemudian saya melanjutkan ke jenjang selanjutnya, sekolah saya selanjutnya tidak jauh dari sekolah sebelumnya yaitu MTsN 4 Rukoh, disinilah masa-masa indahnya “Cinta Monyet”, pada saat itu adalah masa-masa keemasan saya dalam hal asmara, karena banyak fans cewek (sok ganteng) yang suka sama saya baik yang seangkatan maupun kakak angkatan. Hihihi..

Foto waktu di RIAB
Masa remaja adalah masa-masa yang indah bagi para muda-mudi, karena masa itu adalah masa puberitas, pada masa ini para remaja mengenal yang namanya pacaran, nongkrong, dan sebagainya, tapi pada masa itu tidak menjadi bagian dalam hidup saya, karena pada saat itu saya berada di penjara suci yaitu MA Ruhul Islam Anak Bangsa, ya setelah menamatkan tsanawiyah saya melanjutkan sekolah di sebuah pondok pesantren (tobat ni ye???) di Mata Ie. Bisa dikatakan disinilah saya menemukan jati diri saya, karena tempat ini membantu membantu karakter saya yang sebenarnya (Alhamdulillah). Walaupun sistemnya (bahasa, mahkamah, dll) tidak sedisiplin pondok Gontor dan pondok lainnya, sekolah saya ini banyak memberikan pelajaran yang beharga bagi saya, mulai dari persahabatan, kekeluargaan, kebersamaan, suka dan duka, dll. Tapi ingat satu hal tidak semua alumni pondok pesantren punya pribadi yang baik, jadi jangan katakan “apa juga alumni pondok?”, karena institusi tidak bersalah dalam mendidik, tapi itu kembali lagi dalam pilihan anak ajar tersebut mau menentukan arah mana hidupnya.

Wisuda di RIAB
Setelah bebas dari penjara suci, inilah masa-masa galau bagi diri saya, karena saya harus menentukan jurusan apa yang harus saya pilih, karena pilihan saya adalah sebuah pilihan yang menentuka masa depan saya. Dan sama dengan harapan jutaan umat lainnya saya ingin mewujudkan cita-cita saya dari kecil yaitu menjadi seorang dokter, oleh karena itu pada saat SNMPTN 2009 saya menjatuhkan Kedokteran Umum UNSYIAH sebagai pilihan utama saya, namun nasib berkata lain saya belum tidak bisa menembus kerasnya tembok SNMPTN, saya menjadi salah satu bagian dari murid yang tidak beruntung dalam ujian yang dikenal mematikan tersebut. (agak lebhay dikit)
Sebenarnya ada salah satu impian yang ingin saya wujudkan juga, yaitu kuliah diluar Aceh. Diam-diam tanpa memberitahukan pada orang tua saya mengirimkan lamaran PMDK ke salah satu kampus di Yogyakarta, alasan saya memilih jogja karena disini ada saudara saya, jadi jika ternyata saya lulus nanti orang tua akan mengizinkan saya untuk kuliah keluar karena ada saudara yang mengawasi (tapi pada kenyataannya tidak).

Dan Alhamdulillah lamaran saya diterima, saya dinyatakan lulus di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta jurusan Ilmu Pemerintahan. Dari tahun 2009-2013, saya merantau jauh-jauh dari Aceh ke Yogyakrata untuk menuntut ilmu di kota pelajar ini. Salah satu hikmah yang dapat saya petik dari kegagalan saya pada SNMPTN adalah “Man purpose and God is dispose”, sebaik-baiknya manusia berencana sebenarnya Allah telah menyiapkan rencana yang lebih baik baginya, dan ternyata Allah mentakdirkan saya untuk menjadi calon presiden daripada calon dokter. Hahahha… :D

Akhirnya perjuangan mengejar gelar sarjana berakhir dalam waktu 3 tahun 7 bulan 17 hari, dan Alhamdulillah lulus dengan predikat Cumlaude. Gak rugi kuliah jauh-jauh... :D
Saddam Rassanjani, S.IP