Monday, October 8, 2012

Politik Dinasti Figur Perempuan


Figur perempuan diperkirakan masih sulit untuk muncul sebagai calon presiden (capres) pada 2014. Pasalnya, figur perempuan yang terjun ke dunia politik masih didominasi kerabat politisi atau politik dinasti.

Pengamat politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Siti Zuhro mengatakan, sejauh ini nama-nama figur perempuan yang mengisi dunia politik berasal dari keluarga elite. Sebut saja Puan Maharani yang merupakan anak kandung Ketua Umum DPP PDIP Megawati Soekarnoputri,Ani Yudhoyono yang merupakan istri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dan masih banyak lagi.

Sementara itu, figur perempuan di luar peta politik keluarga tersebut cenderung tidak memunculkan diri ke permukaan. Padahal, menurut Siti banyak figur perempuan yang sangat potensial untuk dijadikan pemimpin.“ Figur yang sungguh-sungguh mumpuni dan dikehendaki rakyat justru tidak muncul,” ungkap Siti di Jakarta kemarin. Siti mengatakan, sistem politik yang ada saat ini juga tidak memberikan ruang bagi kemunculan figur perempuan.

Mayoritas partai politik (parpol) hanya melirik figur perempuan yang memiliki latar belakang politik kuat.Salah satunya adalah memandang latar belakang politik kekeluargaan, sedangkan figur yang tidak memiliki latar belakang politik kekeluargaan itu akan sangat susah masuk dalam lingkungan parpol. “ Ini sistem yang diskriminatif, masuk ke dalam parpol sangat sulit, parlemen juga susah, apalagi untuk maju sebagai pemimpin,” paparnya.

Padahal,menurut Siti, sukses atau tidaknya pemimpin terpilih dalam Pemilu 2014 nanti tidak ditentukan dari politik kekeluargaan, tetapi dari tingkat elektabilitas dan penerimaan figur kepada masyarakat. Lebih lanjut Siti mengungkapkan, saat ini baru ada dua figur perempuan yang menonjol untuk diusulkan sebagai pemimpin bangsa,yakni Puan Maharani dan Ani Yudhono.

Sementara dari luar lingkaran politik kekeluargaan ada nama Sri Mulyani, mantan menteri keuangan. Untuk Puan Maharani, Siti menilai bisa jadi PDIP akan mengusungnya pada pemilu presiden (pilpres) mendatang.“Bisa jadi Puan,apalagi Taufiq Kiemas sejak awal sudah secara eksplisit mengusung regenerasi kepemimpinan. Apa yang dinyatakan Taufiq itu secara tidak langsung menegaskan bahwa Megawati sudah pasti tidak mencalonkan kembali,”ujarnya.

Meski demikian, menurut Siti, kapasitas Puan untuk diusung sebagai capres masih belum maksimal.Performanya juga masih belum terlihat kuat pada berbagai aktivitas di PDIP. “Seharusnya Puan sudah mulai agresif membangun kompetensi, sebab itulah yang akan menentukan kredibilitas Puan ke depan,” paparnya.

Untuk Ani Yudhoyono, kemunculannya sebagai capres justru terganjal oleh pernyataan suaminya,sebelumnya.SBY yang menjabat sebagai Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat pernah menyatakan tidak akan mengusung keluarganya sebagai capres. Kemudian untuk kemunculan Sri Mulyani, juga sulit terjadi. Meski saat ini ada sejumlah kalangan yang menyatakan mendukung Sri dengan mendirikan Partai SRI, elektabilitas partai ini belum teruji.

Padahal,untuk bisa maju sebagai capres harus melalui kendaraan politik parpol. Pengamat politik Universitas Nasional Alvan Alvian mengatakan,sulitnya figur perempuan di luar lingkaran politik kekeluargaan untuk muncul salah satunya disebabkan posisi tawar yang sangat lemah. Menurut dia, untuk bisa diakui sebagai figur potensial maka perempuan harus mendapatkan dukungan parpol.

“ Saya melihat partai-partai sangat kecil mengusung capres perempuan, kecuali PDIP,” ujarnya.Karena itu, ungkap Alvan, jika figur perempuan ingin diakui dan dimunculkan maka tidak ada jalan harus mendekati parpol.