Wednesday, January 12, 2011

Akhlaq Terhadap Allah SWT


A.     TAQWA
Definisi taqwa yang paling populer adalah “memelihara diri dari siksaan Allah dengan mengikuti segala perintah-Nya.” Atau lebih ringkas lagi “mengikuti segala perintah Allah dan menjauhi segala larangannya. Taqwa juga bermakna pemeliharaan diri.  Kemudian Muttaqin adalah orang-orang yang memelihara diri mereka dari azab dan kemarahan Allah di dunia dan di akhirat.
Buah dari Taqwa
            Seseorang yang bertaqwa kepada Allah SWT akan dapat memetik buahnya, baik di dunia maupun di akhirat. Buah itu antara lain
1.      Mendapatkan sikap furqan.
2.      Mendapatkan limpahan berkah dari langit dan bumi.
3.      Mendapatkan jalan keluar dari kesulitan.
4.      Mendapatkan rezeki tanpa diduga-duga.
5.      Mendapatkan kemudahan dalam urusannya.
6.      Menerima penghapusan dan pengampunan dosa serta mendapatkan pahala yang besar.

B.     CINTA DAN RIDHA
Cinta adalah kesadaran diri, perasaan jiwa dan dorongan hati yang menyebabkan seseorang terpaut hatinya kepada apa yang dicintainya dengan penuh semangat dan rasa kasih sayang. Bagi seorang mukmin, cinta pertama dan utama sekali diberikan kepada Allah SWT. Allah lebih dicintainya daripada segala-galanya. Dalam hal ini Allah SWT berfirman:
“... Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah ...” (QS. Al-Baqarah 2: 165)
Kenapa dia mencintai Allah lebih dari segala-galanya? Tidak lain karena dia menyadari bahwa Allah-lah yang menciptakan alam semesta dan seluruh isinya, serta Allah-lah yang mengelola dan memelihara semuanya itu. Dengan rahman-Nya Dia menyediakan semua fasilitas yang diperlukan oleh umat manusia jauh sebelum manusia itu sendiri diciptakan. Dan dengan Rahim-Nya Dia menyediakan segala kenikmatan bagi orang-orang yang beriman sampai hari akhir nanti. Allah-lah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Sejalan dengan cinta, seorang Muslim haruslah dapat bersikap ridha dengan segala aturan dan keputusan Allah SWT. Artinya ia harus dapat menerima dengan sepenuh hati, tanpa penolakan sedikitpun, segala sesuatu yang datang dari Allah dan Rasul-Nya, baik berupa perintah, serta larangan-Nya. Dia dapat ridha karena dia mencintai Allah dan yakin bahwa Allah maha pengasih dan penyayang. Demikianlah sikap cinta dan ridha kepada Allah SWT. Dengan cinta kita mengharapkan ridha-Nya, dan dengan Ridha kita mengharapkan cinta-Nya.

C.     IKHLAS
Secara etimilogis ikhlas bearti bersih, muri; tidak bercampur. Kemudian secara terminologis yang dimaksud dengan ikhlas adalah beramal semata-mata mengharap ridha Allah SWT. Dalam bahasa populernya ikhlas adalah berbuat tanpa pamrih: hanya semata-mata mengharapkan ridha Allah SWT.

D.    KHAUF DAN RAJA’
Khauf
            Khauf adalah kegalauan hati membayangkan sesuatu yang tidak disukai yang akan menimpanya, atau membayangkan hilangnya sesuatu yang disukainya. Dalam islam semua rasa takut harus bersumber dari rasa takut kepada Allah SWT. Hanya Allah-lah yang paling berhak ditakuti oleh setiap orang yang mengaku beriman kepada-Nya.

Raja’
            Raja’ atau harap adalah memautkan hati kepada sesuatu yang disukai pada masa yang akan datang. Raja’ harus didahului oleh usaha yang sungguh-sungguh. Harapan tanpa usaha namanya angan-angan kosong.
            Hidup di dunia ibarat bercocok tanam yang nanti panennya di akhirat. Orang yang bercocok tanam di tanah yang subur, menanam bibit yang baik dan bermanfaat, memelihara dan merawatnya dengan tekun, tentu wajar kalau berharap mendapatkan hasil yang baik dan memuaskan. Sebaliknya bercocok tanam di tanah yang kering, bibit yang ditanam tidak baik dan tidak bermanfaat, apalagi tidak pernah dipelihara dan dirawat, tentu sia-sia kalau mengharapkan hasil panen yang baik dan menyenangkan.
            Akhirnya sekali lagi kita katakan bahwa kedua sikap itu, khauf dan raja’ harus berlangsung sejalan dan seimbang dalam diri seorang Muslim. Kalau hanya membayangkan azab Allah seseorang akan berputus asa untuk dapat masuk surga, sebaliknya kalau hanya membayangkan rahmat Allah semua merasa dapat masuk surga.

E.     TAWAKKAL
Tawakkal adalah membebaskan hati dari segala ketergantungan kepada selain Allah dan menyerahkan segala sesuatu kepada-Nya. Tawakkal adalah salah satu buah keimanan. Setiap orang yang beriman bahwa semua urusan kehidupan, dan semua manfaat dan mudharat ada di tangan Allah. Dia tidak takut menghadapi masa depan, tidak kaget dengan segala kejutan. Hatinya tenang dan tentram, karena yakin akan keadilan dan rahmat Allah.
Tawakal dan Ikhtiar
            Tawakal harus diawali dengan kerja keras dan usaha maksimal (ikhtiar). Tidaklah dinamai tawakal kalau hanya pasrah menunggu nasib sambil berpangku tangan tanpa melakukan apa-apa. Sikap pasrah seperti itu adalah salah satu bentuk kesalahpahaman terhadap hakikat tawakal.

F.      SYUKUR
Syukur adalah memuji si pemberi nikmat atas kebaikan yang telah dilakukannya. Bersyukurnya hamba berkisar atas tiga hal, yang apabila ketiganya tidak berkumpul, maka tidaklah dinamakan dengan bersyukur, yaitu: mengakui nikmat dalam batin, membicarakannya secara lahir, dan menjadikannya sebagai sarana untuk taat kepada Allah. Jadi syukur itu berkaitan dengan hati, lisan, dan aggota badan. Hati untuk ma’rifah dan mahabbah, lisan untuk memuja dan menyebut nama Allah, dan anggota badan untuk menggunakan nikmat yang diterima sebagai sarana untuk menjalankan ketaatan kepada Allah dan menahan diri dari maksiat kepada-Nya.
Berikut kutipan dialog antara seorang laki-laki dengan Imam Abu Hazm:
- Apa syukurnya kedua mata itu?
+ Apabila engkau melihat sesuatu yang baik, engkau menceritakannya. Tapi bilamana engkau melihat keburukan, engkau menutupinya.
- Bagaimana syukurnya telinga?
+ Jika engkau mendengar sesuatu yang baik, maka peliharalah. Dan manakala mendengar yang buruk, cegahlah!
- Bagaimana syukurnya tangan?
+ Jangan mengambil sesuatu yang bukan milikmu, dan janganlah engkau menolak hak Allah yang ada pada kedua tanganmu.
- Kalau syukurnya perut, bagaimana?
+ Hendaklah bawahnya berisis makanan, atasnya berisi ilmu.
- Bagaimana syukurnya kemaluan itu?
+ Abu Hazm menjawabnya dengan membaca surat Al-Mukminun ayat 1-7 :
 “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu' dalam sembahyangnya. Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna. Dan orang-orang yang menunaikan zakat. Dan orang-orang yang menjaga kemaluannya. Kecuali terhadap isteri-isteri mereka atau budak yang mereka miliki;  Maka Sesungguhnya mereka dalam hal Ini tiada terceIa. Barangsiapa mencari yang di balik itu,  maka mereka Itulah orang-orang yang melampaui batas.” (QS. Al-Mukminun 23: 1-7)
- Sekarang, bagaimana syukurnya kaki itu?
+ Jika engkau mengetahui seorang saleh yang mati dan engkau bercita-cita dan berharap seperti dia, dimana dia melangkahkan kaiknya untuk beramal saleh semata, maka contohlah ia. Dan apabila engkau melihat seorang yang mati yang engkau membencinya, maka bencilah amalnya. Maka engkau akan menjadi orang yang bersyukur.
            Kemudian Abu Hazm menutup jawabannya dengan mengatakan bahwa orang yang bersyukur dengan lisannya saja tanpa dibuktikan dengan perbuatannya dan sikap, maka ia ibarat seorang laki-laki yang mempunyai pakaian, lalu ia pegang ujungnya saja, tidak ia pakai, menjadi sia-sialah pakaian tersebut.

G.    MURAQABAH
Muraqabah berasal dari kata raqaba yang berarti menjaga, mengawal, menanti dan mengamati, atau dapat disimpulkan pengawasan. Sedangkan yang dimaksud dengan muraqabah dalam pembahasan kita adalah kesadaran seorang muslim bahwa ia selalu berada dalam pengawasan Allah SWT.
Muhasabah
Muhasabah ada tiga macam:
1.      Muhasabah hak Allah SWT.
2.      Muhasabah amalan yang akan lebih baik apabila ia tidak melakukannya daripada ia melakukannya.
3.      Muhasabah amalan mubah atau kebiasaanya.
Muhasabah akan memberikan banyak manfaat bagi orang muslim, diantaranya:
1.      Untuk mengetahui kelemahan diri supaya dia dapat memperbaikinya. Karena orang yang tidak mengetahui kelemahan dirinya sendiritidak akan dapat memperbaikinya.
2.      Untuk mengetahui hak Allah SWT. Karena orang yang tidak mengetahui hak Allah ibadahnya tidak dapat bermanfaat banyak bagi dirinya.
3.      Untuk mengurangi beban hisab esok hari. Karena orang yang sudah dihisab hari ini akan aman dari hisab hari esok.

H.    TAUBAT
Taubat berakar dari kata taba yang berarti kembali. Orang yang bertaubat kepada Allah SWT adalah orang yang kembali dari sesuatu menuju sesuatu; kembali dari sifat-sifat yang tercela menuju sifat yang terpuji, kembali dari larangan Allah menuju perintah-Nya, kembali dari maksiat menuju taat, kembali dari segala yang dibenci oleh Allah menuju yang diridhai-Nya, kembali kepada Allah setelah meninggalkan-Nya dan kembali taat setelah menentang-Nya. Searti dengan kata taba adalah anaba dan aba. Orang yang taubat karena takut azab Allah disebut thaib, bila karena malu disebut munib, dan bila karena mengagunggkan Allah SWT disebut awwab.
Lima Dimensi Taubat
Taubat yang sempurna harus memenuhi lima dimensi:
1.      Menyadari kesalahan.
2.      Menyesali kesalahan.
3.      Memohon ampun kepada Allah SWT (istighfar).
4.      Berjanji tidak akan mengulanginya.
5.      Menutupi kesalahan masa lalu dengan amal shaleh.


Ket : Tugas paper Agama Islam 1, Pak Asep Purnama