Wednesday, January 5, 2011

Teknik Sampling

Yang harus diperhatikan dalam menentukan besarnya sampel :
  1. Derajat keseragaman / degree of homogenity dari populasi.
  2. Presisi yang dikehendaki dari penelitian. Presisi adalah tingkat ketetapan / secara kuantitatif disebut “standar error”.
  3. Rencana analisa / kebutuhan data yang akan dianalisis.
  4. Tenaga, biaya, waktu.
RANDOM SAMPLING / PROBABILITY SAMPLING
Random sampling atau perobability sampling adalah teknik pengambilan sampel yang memberikan peluang sama kepada seluruh anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel. Ada beberapa macam random sampling, yaitu:
  1. Simple Random Sampling (SRS)
Dalam teknik ini, random untuk mendapatkan sampel langsung dilakukan pada unit sampling. Dengan demikian, setiap unit sampling sebagai unsur populasi terkecil memperoleh peluang yang sama untuk dijadikan sampel yang mewakili populasi. Teknik ini dapat digunakan bila julah unit sampling dalam sebuah populasi tidak terlalu besar.
  • jumlah populasi teridentifikasi.
  • sampel ditentukan secara acak.
  • langkahnya:
  1. Identifikasi semua unit sampling yang terdapat dalam populasi.
  2. Tentukan ukuran sample (jumlah sample).
  3. Pilih sample dengan menggunakan teknik fishbowl draw / undian, program komputer, atau tabel bilangan random.
  1. Stratified Random Sampling
Dalam teknik ini, pengambilan sampel dilakukan secara berjenjang atau bertingkat, tidak langsung pada unit ssamplingnya. Penentuan tingkatan sangat tergantung pada kondisi populasi.
  • jumlah populasi teridentifikasi.
  • menstratifikasi (membuat tingkatan) populasi berdasarkan karakteristik yang homogen.
  • dasar stratifikasi sesuai dengan variabel pokok penelitian.
  • langkahnya:
  1. Identifikasi seluruh elemen (unit sampling) yang terdapat dalam populasi.
  2. Tentukan berdasarkan apa kita membuat strata populasi.
  3. Tempatkan masing-masing elemen ke dalam strata yang sesuai.
  4. Nomori setiap elemen dalam setiap strata secara terpisah.
  5. Tentukan jumlah sampel.
  6. Stratifikasi proporsional: tentukan jumlah sampel yang akan dipilih dari tiap strata secara proporsional (ukuran sampel x populasi), kemudian pilih sampel secara acak.
  7. Stratifikasi tidak proporsional: tentukan jumlah sampel yang akan dipilihdari tiap strata, kemudian pilih sampel secra acak.
  1. Cluster Random Sampling
Teknik ini hampir serupa dengan teknik simple random sampling karena penarikan sampel tidak dilakukan secara bertingkat, hamper serupa dengan stratified random sampling karena penarikan tidak dilakukan langsung pada unit sapling. Teknik ini mengumpulkan cirri-ciri yang sama dari bagian populasi dan memasukkannnya ke dalam cluster-cluster / kelompok-kelompok. Pada tahap pertama, random dilakukan pada sejumlah kelompok atau cluster tanpa memperhitungkan jumlah unit sampling yang ada di tiap cluster. Tahap kedua, dari sejumlah cluster yang terpilih secara random tadi dihitung jumlah unit sampling yang diperoleh. Bila belum memenuhi jumlah ukuran sampel yang dibutuhkan, maka dapat dilakukan penerikan sampel lagi secara random dari satu atau dua cluster lagi. Bila ada kelebihan ukuran sampel, biasanya tidak dipermasalahkan, kecuali jumlahnya melebihi jumlah unit sampling dalam satu cluster, dapat dilakukan pengurangan secara random terhadap satu cluster.
  • bila jumlah populasi sangat banyak, sehingga proses pengidentifikasiannya sulit dan mahal.
  • dasar pengelompokkan (cluster) adalah kesamaan karakteristik (homogenitas) yang terdapat dalam populasi sehingga sampel tersebut dapat diperbandingkan, kemudian sampel diambil secara acak dari masing-masing cluster.
NON RANDOM SAMPLING / NON PROBABILITY SAMPLING
Non random sampling atau non probability sampling adalah teknik sampling yang tidak memberikan kesempatan yang sama kepada seluruh anggota populasi untuk dipilih menjadi sampel.
1.      Quota Sampling
Dalam teknik ini jumlah populasi tidak diperhitungkan, tapi diklasifikasikan dalam beberapa kelompok. Sampel diambil dengan memberikan kuota tertentu pada setiap kelompok. Pengumpulan data dilakukan langsung pada unit sampling.
  • Bila peneliti tidak memiliki akses terhadap populasi.
  • Ditentukan berdasarkan karakteristik yang sama dan kelihatan, contoh: jenis kelamin, suku, dll.
  • Langkah:
  1. Tentukan jumlah sampel yang dibutuhkan dari masing-masing karakter (kuota).
  2. Kemudian kita cari sampel berdasarkan karakteristik yang telah kita tentukan, biasanya dicari lokasi dimana mudah ditemukan karakteristik tersebut.
  3. Pencarian sampel berhenti bila sudah memenuhi jumlah yang kita butuhkan (kuota).
2.      Accidental Sampling
Dalam teknik ini peneliti langsung mengumpulkan dari unit sampling yang ditemuinya. Setelah jumlahnya dirasakan mencukupi, pengumpulan data dihentikan.
  • Bila peneliti tidak memiliki akses terhadap populasi.
  • Jumlah sampel tidak dipersoalkan.
  • TIDAK berdasarkan karakteristik tertentu, contoh: penelitian marketting, polling wartawan.
  • Langkah:
  1. Jumlah sampel tidak ditentukan terlebih dahulu.
  2. Cari lokasi yang memudahkan kita untuk mendapatkan sampel.
  3. Bila informasi atau data dirasa sudah cukup dari sampel yang diperoleh, maka pengumpulan data dihentikan.
3.      Purposive Sampling
Dalam teknik ini pengambilan sampel disesuaikan dengan tujuan penelitian. Ukuran sampel tidak dipersoalkan sebagaimana dalam accidental sampling. Perbedaaannya terletak pada pembatasan sampel yang hanya mengambil unit sampling yang sesuai dengan tujuan penelitian. Dengan kata lain, unit sampling yang dihubungi sesuai disesuaikan dengan kriteria-kriteria tertentu berdasarkan tujuan penelitian.
Jumlah sampel tidak dipersoalkan, yang menjadi ukuran adalah ketercukupan informasi yang dibutuhkan peneliti. Pembatasan sampel dilakukan dengan hanya mengambil unit sampel yang sesuai dengan tujuan penelitian.
4.      Snowball Sampling
Dalam teknik ini pengambilan sampel dilakuakn berdasarkan network, kita menghubungi unit sampling yang kita anggap mengetahui informasi yang kita butuhkan atau memudahkan kita dalam mengakses informasi, lalu dari sumber informasi itu kita ditunjukkan untuk mencari unit sampling yang lain. Dari sedikit lama kelamaan bertambah banyak, hingga kebutuhan informasi kita terpenuhi. Unit sampling yang dipilih mmakin lama makin terarah sejalan dengan makin fokusnya penelitian.
Dalam teknik ini jumlah sampel tidak dipermasalahkan, sebagaimana dalam accidental sampling dan purposive sampling. Dilakukan bila pengetahuan terhadap kelompok / organisasi sangat terbatas dan tidak ada akses terhadap populasi. Ket : Materi kuliah Metode Penelitian Sosial, Dian Eka Rahmawati