Sunday, May 12, 2013

[Media_Nusantara] Undangan Diskusi : KOMPAS – Lingkar Muda Indonesia “KEPEMIMPINAN YANG BERKEUTAMAAN”

 

Lingkar Muda Indonesia (LMI)
Sekretariat: Insitute Ecosoc, Tebet Timur Dalam VI-C/17, Jakarta 12820,
Telp./Fax. (021) 830 4153, email: ecosoc@cbn.net.id
------------------------------------------------------------------------------------------
 
Undangan Diskusi Seri I tahun 2013
KOMPAS – Lingkar Muda Indonesia
  
 "KEPEMIMPINAN YANG BERKEUTAMAAN"
  
 
Kepada
Yth. Ibu/Bapak/Sdr-i
Pemerhati masalah Keindonesiaan
Di Tempat
 
 
Indonesia saat ini adalah bangsa yang menyimpan keluhan sekaligus janji. Daftar keluhan bisa sangat panjang dan berderet. Kita sebut saja satu per satu. Pelanggaran HAM, konflik antaragama, kesenjangan kaya dan miskin, kontrak karya yang merugikan, konflik antar aparatur negara, korupsi yang menggurita, dan masih banyak yang lain. Namun, di tengah gelapnya ruang tunggu republik ini, kita masih memiliki janji akan perbaikan. Pada  2014 nanti APBN kita diper- kirakan menginjak angka 2.500 triliun rupiah. Indikator ekonomi pun menunjukan sesuatu yang tidak mengecewakan. Pertumbuhan ekonomi kita masih lumayan jika dibandingkan dengan beberapa negara di kawasan Asia Timur lainnya.   
 
Meski mengandung janji dan harapan, segenap kesulitan yang dialami bangsa ini tidak dapat dipandang sebelah mata. Buat apa APBN yang berlimpah jika korupsi membocorkannya di tengah jalan. Pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi juga tidak membanggakan ketika kualitas hidup mereka yang tunasejahtera tidak mengalami perubahan. Apalagi ketika pertumbuhan tersebut tidak membuat utang luar negeri kita berkurang. Utang yang terus membubung bakal menabung risiko tersendiri bagi generasi penerus republik ini.
 
Janji dan keluhan yang dimiliki republik ini membutuhkan lebih dari sekadar pemimpin. Kita  memiliki banyak pemimpin, namun sedikit dari mereka yang memiliki kepemimpinan. Kepemimpinan bukan sekadar jargon atau ide yang enak diucapkan. Kepemimpinan memiliki konsekuensi praksis yang tidak sederhana. Apalagi ketika kita berbicara soal kepemimpinan politik. Kepemimpinan politik jauh lebih ruwet dari kepemimpinan di bidang lainnya. Kepemimpinan politik menuntut akuntabilitas yang lebih luas dan sublim sebab berhadapan dengan rakyat dengan beraneka kepentingan dan ideologi. Keputusan seorang pemimpin politik, sebab itu, tidak bisa disebandingkan dengan keputusan seorang pemimpin korporat untuk melakukan right sizing demi efisiensi. Keputusan pemimpin politik memiliki dimensi yang lebih tinggi ketimbang efisiensi yakni keadilan. Tidaklah cukup memiliki pemimpin yang dapat menghemat subsidi demi kesehatan anggaran negara. Kesehatan anggaran satu perkara,  sementara akses rakyat terhadap sumber-sumber ekonomi adalah perkara lain.
 
Pertanyaan diskusi kita adalah "kepemimpinan macam apa yang dibutuhkan republik ini untuk menyelesaikan masalah secara akuntabel sekaligus menunaikan janji tanpa komplikasi etis?" Sebagai bahan renungan, Terry Price, seorang profesor ilmu kepemimpinan, mendefinisikan tiga jenis kepemimpinan (Price, 2006, hlm. 65-85). Pertama adalah kepemimpinan yang berkeutamaan. Integritas adalah salah satu keutamaan kardinal yang perlu dimiliki pemimpin.  Pemimpin harus memiliki integritas sebagai disposisi yang stabil dalam mengambil keputusan-keputusan penting.  Tanpa itu, pemimpin hanya akan diombang-ambingkan oleh situasi dan persepsi publik. Tanpa integritas, pemimpin bakal dikendalikan oleh lembaga survei yang merekam setiap jengkal pendapat publik terhadap keputusan yang (bakal) diambil. Pemimpin akhirnya  hanya mengambil keputusan yang menyenangkan orang banyak. Padahal, apa yang menyenangkan orang belum tentu sesuai dengan patokan-patokan umum soal integritas.  Kalkulasi utilitarian memang mem- bahagiakan orang banyak, namun belum tentu berintegritas.
 
Kedua adalah kepemimpinan situasional. Bertolak belakang dengan jenis terdahulu, kepemimpinan jenis ini justru mengedepankan situasi dan bukan disposisi etis yang namanya integritas. Machiavelli berpendapat bahwa pemimpin harus bersiap mengubah keputusan sesuai dengan situasi yang berkembang. Pemimpin yang efektif berbeda dengan dia yang berintegritas. Dalam situasi darurat, seorang pemimpin dapat saja mengorbankan integritas demi keselamatan orang banyak.  Kepemimpinan bukan sesuatu yang ajek, melainkan dinamis sesuai dengan situasi yang berkembang.
 
Ketiga adalah kepemimpinan transaksional. Filsuf Hobbes berpendapat bahwa hubungan antara pemimpin sebagai yang berdaulat dan rakyatnya adalah hubungan pertukaran. Rakyat menyerahkan segenap haknya, sementara pemimpin membalasnya dengan membangun stabilitas politik. Kepemimpinan transaksional melihat pemimpin lebih dari sekadar tempat penyimpanan integritas atau dia yang merespons situasi. Kepemimpinan transaksional memandang pemimpin sebagai dia yang mengikatkan diri secara kontraktual dengan rakyatnya. Apa yang dipertukarkan secara kontraktual tidak mesti bersifat ekonomi, namun bisa juga politis atau psikologis sifatnya. Misalnya, suara konstituen dipertukarkan dengan kepemimpinan yang menentramkan. Atau, sikap hormat rakyat  dipertukarkan dengan keikhlasan seorang pemimpin untuk mendengar keluh kesah dan aspirasi.
 
Ketiga jenis kepemimpinan di atas tentu saja memiliki kelebihan dan kelemahannya masing-masing. Apa pun jenis atau tipe kepemimpinan yang berlaku, kita tetap saja harus mengujinya di laboratorium sosial bernama Indonesia. Historisitas, kondisi faktual, kendala geografis, semuanya perlu dipertimbangkan sebelum kita memutuskan pemimpin seperti apa yang dibutuhkan. Karenanya kami mengundang Rekan-Rekan untuk hadir dalam diskusi yang akan diadakan pada:
 
Hari, tanggal     : Rabu, 15 Mei 2013
Pukul               : 14.00-17.30 WIB
Tempat            : Gedung Serba Guna Bentara Budaya Jakarta (BBJ)
                             Jl. Palmerah Selatan 17, Jakarta Pusat
 
 
Pembicara dan Materi Bahasan:
 
1.     Ahmad Syafii Maarif: "Kepemimpinan yang Berkeutamaan (Ide, Sejarah dan Filsafatnya)"
2.     Saldi Isra: "Pemimpin yang Berkeutamaan Menurut Konstitusi"
3.     Haryatmoko: "Kepemimpinan yang Berkeutamaan dari Sudut Kebudayaan"
Moderator       : Donny Gahral Adian
 
Jakarta, 8 Mei 2013
 
Salam Solidaritas
Steering Committee
 
1.       Zuhairi Misrawi (Lingkar Muda NU)
2.       Imam Cahyono (Lingkar Muda Muhammadiyah)
3.       Donny Gahral Adian (Lingkar Muda Akademisi)
4.       Sri Palupi (Lingkar Muda CSO)

__._,_.___
Reply via web post Reply to sender Reply to group Start a New Topic Messages in this topic (1)
Recent Activity:
.

__,_._,___